Profil Pondok Pesantren Rohmatu Lil Alamin

Sejarah

Didirikan pada tahun 1897 oleh Kiyai Imam Sanusi dari Begelan, Jawa Tengah. Sang pendiri dulu mondok dipondok pesantren di desa Patilaler.
Ada tokoh dari Desa Jajar Kabupaten Blitar Jawa Timur mencari orang untuk berjuang di desa tersebut, karena di Desa Jajar ada mushola, tetapi tidak ada yang meneruskan perjuangannya. Akhirnya para tokoh di desa tersebut bermusyawarah. Akhirnya, dalam musyawarah tersebut menghasilkan dua orang untuk berbagi tugas. Orang pertama Bernama Mbah Mat Senanwi memberikan tanah di sekitar mushola untuk ditempati penerus perjuangan. Sedangkan Mbah Joyo Karno datang dan meminta ke pengasuh pondok di Patilaleruntuk berjuang di Desa Jajar.Kahirnya yang ditugaskan lurah pondok/wakil pengasuh podok tersebut untuk di kirim ke Desa Jajar dan diikut beberapa santri. Kemudian mendirikan sebuah pondok di dekat mushola Desa Jajar.

Suatu Ketika Kiyai Imam Sanusi meninggal dunia, dan belum ada yang melanjutkan perjuangannya. Lambat laun pondok habis karena tidak ada yang meneruskan. Saat itu Kiyai Imam Ahmad anak dari Kiyai Imam Sanusi masih kecil.  Para santri kembali pulang ke asal mereka masing-masing dan dipondok tinggal bangunan saja.

Kemudian ketika Kiyai Imam Ahmad sudah besar, beliau meneruskan perjuang ayahnya. Aktivitas keagamaan diteruskan hanya saja tidak ada pondok. Tetapi, hanya pendidika Al-Quran secara tradisional.

Pada tahun 1974 diikrarkan mushola besar jadi masjid untuk jumatan. Mulai saaat itu Madrasah Diniyah mulai dibuka lagi. Lokasi belajar mengajar di rumah Kiyai.

Beberapa tahun kemudian pengajar mulai banyak yang nikah dan sibuk. Akhirnya santri/wati hanya belajar Al-Quran dan Tajwid saja.  Pada saat itu yang tenaga pengajar hanya dua, yaitu Imam Sobari dan Mohammad Jupri.

Mulai didirikan TPQ, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dimasjid dengan 2 tenaga pengajar. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dimasjid. Sebelumnya belajar dan mengajar dilakukan di masjid menjadi ramai.

TPQ sudah berjalan dalam beberap tahun. Tenaga pengajar hanya 1 bernama Turliana. kemudian pengajar tersebut menikah dan ikut suaminya. Akhirnya dilanjutkan oleh seorag guru laki-laki bernama Sabro. Pada saat itu murid semakin hari semakin sedikit,

Pada tahun 1997 Drs. Hasim Ngadenan pulang dari Malang dan murid tinggal 6 tanpa pengajar. Akhirnya proses belajar mengajar dilanjutkan di rumah Muhammad Muwadjir (Ayah Drs. Hasim Ngadenan) kegiatan belajar mengajar terbagi menjadi dua. Siang untuk anak-anak dan malam hari untuk yang lebih besar. Saat itu sudah mulai didesain menjadi Madrasah Diniyah lagi. Kemudian proses belajar mengajar Kembali di masjid.

Beberapa tahun kemudian didirikan bangunan untuk Madrasah Diniyah. Nama Rahmatul Lil Alamin diberi nama oleh Kiyai Imam Sobari, Kiyai Imam Sobari berasal dari Jombang Jawa Timur. Mulai saat itu sistem dimodel Madrasah Diniyah yang berkelas-kelas. Pelajaran sudah mengacu pada kurikulum pondok pesantren. Pelajarann mulai fikih, Akhlaq, Aqidah, Tajwid, Bahasa Arab. Pernah mengunakan metode JMSA kemudian Toriqati, dan sekarang Wafa. Awalnya tenaga pengajar hanya dua, kemudian semakin berkembang akhirnya alumni juga ikut membantu mengajar.

Letak Geografis

Madrasah Diniyah Rahmatul Lil Alamin berlokasi di Jalan besole Dusun Jajar Rt. 3 Rw. 1 Kecamataan Talun kabupaten Blitar Provonsi Jawa Timur Indonesia. Jika ditinjau dari akses menuju Madrasah Diniyah sangat mudah diakses. Karena Jalan sudah beraspal dan mendatar serta tidak jauh dari rumah santri/wati. Sebagian besar santri berasal dari desa tersebut dan beberapa berasal dari desa sebelah.

Berlokasi di daerah pedesaan dengan jalan yang tidak terlalu ramai.

 jarak tempuh Madrasah Diniyah sangat strategis. Madrasah Diniyah Rahmatul Lil Alamin berlokasi sedikit masuk kurang lebih 10 meter dari jalan desa. Dengan lokasi yang sedikit masuk sangat aman lebih fokus disaat proses pembelajaran, suara dari jalan tidak terlalu terdengar serta fokus tidak teralihkan dengan sesuatau yang lewat dijalan. Selain itu santri/wati juga aman karena tidak keluar dan bermain ke jalan. Tidak ada penjual makanan maupun mainan yang aneh-aneh dan tidak menyehatkan disekitar Madrasah Diniyah. Hal tersebut merupakan hal yang aman dan baik bagi santri/wati.

Visi Misi

Visi

Visi dari Madrasah Diniyah Rahmatu Lil Alamin adalah “Membentuk insan kamil yang shalih dan shalihah, bertaqwa kepada Allah, berbakti kepada orang tua, serta rahmatu lil alamin”.

Misi

Untuk mewujudkan visi Madrasah Diniyah Rahmatu Lil Alamin tesebut, diperlukan misi berupa kegiatan jangka Panjang dengan arah yang jelas. Misi Madrasah Diniyah Rihmatu Lil Alamin yang disusun berdasarkan visi diatas, adalah:

  • Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, bermutu
  • Mendidik santri/wati agar menjadi insan kamil yang shalih dan shalihah
  • Membimbing santri/wati agar menjadi anak yang berbakti kepada Orang tua.
  • Terbuka untuk semua kalangan dan latar belakang
  • Berperan aktif dalam usaha pemberdayan masyarakat berbangsa san bernegara.

Tujuan

Tujuan yang diharapkan daari penyelenggaraan pendidikann di Madrasah Diniyah Rohamatu Lil Alamin adalah mengembangkan Pendidikan agama yang paham Ahli Sunnah Wal Jamaah an Nahdiyah.

Fungsi

Fungsi dari Madrasah Diniyah Rahmatul Lil Alamin adalah Membentengi para santri/wati dari paham-paham radikal

Kegiatan

Kegiatan saat proses pembelajaran, sebagaim berikut

  1. Murojaah juz 30
  2. Shorokan Qur’an
  3. Ngaji kitab sesuai jadawal, jadwal terdapat pada gambar 1
  4. Shorokan Al-Quran (1/2, 1, 2. Halaman)
  5. Setor hafalan satu bulan sekali.

Kegiatan yang sering diadakan pada peringatan hari besar Islam, seperti:

  1. Maulid nabi
  2. Isra’muraj
  3. Satu muharram, dan santunan anak yatim
  4. Halal bi halal

Saat ini Madrasah Diniyah Rahmatul Lil Alamin menggunakan metode Wafa dalam proses belajar mengajar Al-Quran. Belum ada ujian yang diadakan secara rutin, biasanya untuk mengetes sampai mana kemampuan satri/wati.   Belum ada peraturan tertulis, tetapi disampaikam langsung ke santri/wati. Perturan mengacu pada kitab akhlaq (ta’lim muta’alim).